Total Pengunjung

Penghargaan Blogger

Penghargaan Blogger

Sertifikat K13

Sertifikat K13

Gerakan Literasi Sekolah

Prakarya Kewirausahaan

Komunitas Guru Belajar 'Bertanyalah Pada Siswa'


Iwan Ardhie Priyana[Komunitas Guru Belajar]

Ketika berbagai teori pendidikan telah kita dapat di bangku kuliah dan ruang seminar,ketika berbagai pelatihan telah dilaksanakan di hotel berbintang dan ketika berbagai kebijakan telah diluncurkan oleh para pembuat kebijakan pendidikan, tetapi kita belum menemukan dan pencerahan dan solusi terbaik bagi dunia pendidikan; boleh jadi kita perlu mengajak anak-anak untuk berpikir dan mengeksplorasi ide-ide mereka.

Anak-anak bukanlah kertas kosong,bukan pula kertas putih yang siap diisi. Mereka adalah pemilik ilmu karena mereka juga belajar dari alam semesta dan kehidupan. Mari kita bertanya pada anak-anak. Bukalah hati dan pikiran kita untuk mau mendengar dan berbicara dengan mereka. Mereka sebenarnya inspirasi buat kita para guru,mereka pada sisi lain adalah "guru-guru" kita yang kepadanya kita juga bisa belajar.

Menyerap ide -ide mereka , dan menjadikan mereka sebagai nara sumber adalah langkah terbaik untuk membuka cakrawala kita sebagai guru bahwa anak-anak adalah bukan orang yang tidak tahu tapi juga untuk mencari tahu.

#belajardarianak

11 Hal Yang Harus Dilakukan Untuk Menjadi Pendidik Hebat

  1. Ubah pola berfikir anda:  pembelajaran bukan tentang bagaimana guru mengajar tapi bagaimana siswa itu dapat belajar 
  2. Jangan hanya pelajari materi pembelajaran tetapi pelajari pula tingkah laku anak didik anda,
  3.  Sampaikan tidak hanya dengan lisan tapi gunakan seluruh anggota tubuh untuk berkomunikasi kepada Siswa  
  4. Tunjukkan kepada siswa pentingnya belajar dimanapun dan di kapanpun juga. (Belajar tidak hanya di Sekolah saja)
  5.  Pastikan anda sudah mengaktifkan potensi VAK (visual, auditori, kinestetik) ke semua siswa 
  6. “Hukum durasi 20-30 menit” (sesuai penelitian siswa hanya mampu bertahan konsentrasi 20-30 menit, maka variasikan kegiatan belajar mengajar anda setiap 20-30 menit) 
  7. Lakukan dialog bukan monolog, 
  8. Ajukan pertanyaan yg tepat kepada siswa
  9.  Tularkan emosi positif dan sikap optimis di depan siswa  
  10.  Bimbinglah anak belajar dengan cara belajar mereka sendiri. (Bukan anak tidak mau belajar tapi anak belum menemukan cara belajar yang sesuai untuknya)
  11.  Tampillah menarik di depan siswa. Tidak hanya dalam pakaian saja tetapi dengan menampilkan kepribadian yang menarik agar siswa tertarik dengan Pembelajaran yang anda sajikan.

Selamat menghebatkan diri Bapak/Ibu Guru

Tim Pengembangan Kurikulum Kemendikbud. (TPKK)

Kutu Buku bukan Jaminan Mutu



Najelaa Shihab [Komunitas Guru Belajar]

Kita sering mendengar bahwa kemampuan membaca penduduk Indonesia sangat rendah. Bagaimana mungkin, padahal pelajaran membaca dipaksakan bahkan di usia balita? Kita sering tercengang bahwa orang bergelar panjang tertutup pada perbedaan sudut pandang. Bagaimana mungkin, saat koleksi buku dan informasi media yang menceritakan perubahan begitu berlimpah?

Dunia pendidikan memang tidak bisa dilihat sederhana. Namun, kita seringkali berlindung dibalik angka dan jumlah. Kemampuan mekanik mengeja dan membaca anak-anak kita di usia muda mendapat angka tinggi di tes internasional. Tapi saat diminta memahami bacaan dan mengaplikasikan pengetahuan di masa akhir sekolah, angkanya menjadi salah satu yang terendah diantara semua negara. Rasio jumlah bangunan perpustakaan kita dibanding jumlah penduduk adalah salah satu yang baik di dunia. Tapi bila dilihat isi raknya jarang menyimpan dan meminjamkan buku Indonesia yang berkualitas serta beragam.

Prestasi jangka pendek dan peresmian sarana, pencanangan gerakan atau penerbitan buku pesanan sesuai pencitraan, masih menjadi bagian harian dari pendidikan dan bacaan kita. Sebelumnya kita bisa diam atau hanya menggumam di belakang, tapi sekarang kita harus berani bicara dengan lantang. Semua ini bukan saja tidak cukup, tetapi harus dihentikan karena menghalangi pencapaian tujuan pendidikan berkait bacaan dalam jangka panjang.

Pendapat di atas mungkin dianggap sama dengan ekstrimitas, tapi bicara pendidikan memang membutuhkan militansi jangka panjang.

Setiap hari terbit 5000 buku di dunia. Kalau kita hanya bicara banyaknya buku yang dibaca anak indonesia - kapan kita sadar bahwa peran pendidikan tidak hanya sekedar membuat anak bisa membaca tapi juga membuat insan Indonesia mahir menulis dan mewarnai pemikiran global. Tidak ada perubahan indikator kesuksesan membaca sejak zaman sebelum kemerdekaan hingga saat ini. 72 tahun kita bertepuk tangan atas "kemajuan" pemberantasan buta aksara padahal ukuran literasi internasional dan tuntutan teknologi digital sudah berubah.

Setiap detik lebih dari 10 ribu informasi baru muncul di media sosial. Kalau kita hanya bertujuan mencetak generasi pekerja yang mampu membeli dan memakai gawai terkini - kapan kita menumbuhkan anak-anak cerdas digital dan menjadi warganegara Indonesia yang karyanya di berbagai bidang mengubah dunia.

Aktif membaca tidak cukup, membaca aktif esensial. Menambah jumlah pustaka cetak ataupun elektronik tidak cukup,  menambah manfaat pustaka adalah mutlak. Kutu buku bukan jaminan mutu bila cuma berlindung di balik kertas atau terpaku di depan layar. Mari bercita-cita lebih besar! Kutu buku akan menjadi manusia utuh bila kita menjadi teladan pendidik yang berdaya di setiap rumah dan kelas.

Rujukan Budaya Literasi Sekolah


Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Bojonegoro adalah Sekolah tertua di Bojonegoro yang terletak di Jl. Panglima Sudirman 28 Bojonegoro. Perjalanan SMA Negeri 1 Bojonegoro dari tahun ke tahun selalu menunjukkan prestasi yang gemilang dan mulai tahun 2006 SMA Negeri 1 Bojonegoro dipercaya oleh Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah sebagai sekolah Rintisan SMA bertaraf Internasional sebagai manifestasi Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 yang mengamantkan bahwa setiap Kabupaten/kota sekurang-kurangnya ada satu Sekolah bertaraf Internasioanl untuk setiap jenjang Pendidikan. Tahun 2011 bersama Sekolah lainnya di Indonesia SMA Negeri 1 Bojonegoro memasuki tahun kelima sebagai batas akhir pendampingan oleh Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah.

Kini di tahun 2016 SMA Negeri 1 Bojonegoro kembali ditunjuk dan dipercaya oleh Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah sebagai SMA Rujukan. SMA Rujukan adalah SMA yang telah memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan (SNP), mengembangkan ekosistem sekolah yang kondusif sebagai tempat belajar, mengembangkan praktik terbaik dalam peningkatan mutu berkelanjutan, melakukan inovasi dan berprestasi baik bidang akademik maupun non akademik, serta melaksankan program kebijakan pendidikan yang layak menjadi rujukan SMA lain.

SMA Negeri 1 Bojonegoro sebagai SMA Rujukan di awali dengan adanya workshop Asistensi dan Sinkronisasi Program Bantuan Pemerintah SMA Rujukan yang dilaksanakan dan dikoordinasikan oleh Direktorat Pembinaan SMA, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Workshop Asistensi dan Sinkronisasi Program Bantuan Pemerintah SMA Rujukan ini dilaksanakan dalam 5 region masing-masing selama 4 (empat) hari dan. SMA Negeri 1 Bojonegoro ikut dalam region Yogyakarta yang pelaksanaanya pada tanggal 22-25 Juni 2016 di Hotel East Parc Yogyakarta. Peserta workshop region yogyakarta sebanyak 139 Kepala SMA Rujukan yang berasal dari provinsi DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur. Bali, Sulawesi Utara, Gorontalo dan Maluku Utara.
 

Bantuan Pemerintah SMA Rujukan di tahun pertama digunakan untuk : 1. Sosialisasi Program SMA Rujukan (Pengembangan Profil SMA Rujukan dan sosialisasi SMA Rujukan), 2. Peningkatan Mutu Pemenuhan SNP (IHT Analisis Silabus dan Pengembangan RPP, Pengembangan penilaian berbasis TIK, workshop penggunaan soal berbasis aplikasi, workshop penembangan soal HOTS), 3. Implementasi Kebijakan Kemdikbud (Penumbuhan budi pekerti, pelaksanaan pengembangan muatan lokal, pelaksanaan pengembangan kewirausahaan, pengembangan literasi Sekolah, penyelenggaraan sekolah aman), 4. Program keunggulan SMA Rujukan (Pembinaan prestasi (OSN), dan Pengelolaan lingkungan).

Di tahuh 2017 saat ini, SMA Negeri 1 Bojonegoro sebagai SMA Rujukan telah memasuki tahun yang ke-2 ikut dalam region Surabaya. Bantuan Pemerintah SMA Rujukan di tahun kedua ini masih digunakan salah satunya dalam pengembangan literasi di sekolah.

Gerakan literasi sekolah yang dicanangkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui program SMA Rujukan merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga pendidik, pengawas sekolah, komite sekolah, orang tua / wali murid peserta didik), akademisi, penerbit, media masa, msyarakat dan pemangku kepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Gerakan literasi sekolah yang telah diterapkan di SMA Negeri 1 Bojonegoro dan sudah menjadi budaya warga sekolah di dalamnya meliputi : 1. Pelaksanaan kegiatan 15 menit membaca Al-qur’an sebelum pembelajaran dimulai, 2 Pelaksanaan kegiatan 15 menit membaca buku non pelajaran sebelum pembelajaran dimulai, 3 Pembuatan majalah sekolah yang terbit setiap 1 tahun sekali, 4 Penulisan cerpen dan novel, 5 Penulisan cerkak basa jawa, 6 Penulisan karya ilmiah , 7 Penulisan artikel melalui media blog, 8 Penulisan Tindakan kelas (PTK)

Kegiatan literasi 15 (lima belas) menit membaca Al-qur’an sebelum pembelajaran dimulai oleh seluruh peserta didik dan guru yang dilaksanakan setiap hari selasa dan kamis. Bagi peserta didik yang beragama islam 15 (lima belas) menit sebelum pembelajaran dimulai diberikan kesempatan membaca Al-qur’an, begitu juga dengan peserta didik yang beragama non muslim diberikan waktu yang sama untuk membaca kitab sucinya masing-masing. Sesuai visi SMA Negeri 1 Bojonegoro yaitu membentuk insan yang berakhlak mulia, unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, berdaya saing global serta berbudaya lingkungan. Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan penghayatan dan semangat pengamalan terhadap agama serta nilai luhur budaya bangsa yang tercantum dalam misi sekolah di poin pertama.

Kegiatan literasi 15 (lima belas) menit membaca buku non pelajaran sebelum pembelajaran dimulai oleh seluruh peserta didik dan guru yang dilaksanakan setiap hari senin, rabu dan jum’at. Buku yang dibaca adalah buku pilihan sendiri sesuai minat dan kesenangan masing-masing. Sekolah dalam hal ini bisa ambil peran dengan menghadirkan dan menyediakan beragam buku bacaan yang baik dan menarik, tentunya sifatnya edukatif. Buku yang disediakan untuk dibaca semisal novel, kumpulan cerpen, buku ilmiah populer, majalah, komik, dan sebagainya. Kegiatan literasi membaca buku non pelajaran ini harapannya untuk memotivasi peserta didik agar terbiasa membaca dan menjadi budaya bahwa membaca adalah kegiatan yang sangat menyenangkan.

Kegiatan literasi pembuatan majalah sekolah ’Ganesa’ yang terbit setiap 6 bulan sekali. Kegiatan literasi ini dilakukan oleh beberapa peserta didik yang tergabung dalam tim redaksi majalah sekolah. Bagi peserta didik yang memiliki potensi dan minat disini dapat bergabung dalam Tim redaksi majalah sekolah ini. Sekolah sangat mendukung kegiatan literasi ini. Dukungan sekolah ini dengan memberikan bekal ketrampilan jurnalistik bagi tim redaksi majalah sekolah. Kegiatan lokakarya jurnalistik yang mendatangkan narasumber professional dalam bidangnya (wartawan radar bojonegoro dan kontributor trans 7) yang telah dilaksanakan pada awal bulan september lalu tahun 2017 bisa menjadi bekal berharga bagi tim redaksi untuk menyusun dan pembuatan majalah sekolah.

Kegatan literasi penulisan cerpen dan novel. Kegiatan literasi belajar ketrampilan menulis cerita pendek (cerpen) dan novel ini berada dalam ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia. Upaya mendukung gerakan literasi sekolah ini disamping ketrampilan membaca, menulis juga merupakan ketrampilan yang ditekankan oleh pembina / gurunya. Aspek menulis difokuskan agar peserta didik mampu mengapresiasikan berbagai pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaan dalam menyusun karangan. Kemampuan menulis cerpen atau novel penting bagi peserta didik untuk dijadikan sarana berimajinasi dan menuangkan pikiran. Karya cerpen dan novel yang telah dibuat peserta didik dijilid dan dijadikan buku. Tidak sedikit karya cerpen atau novel yang dibuat oleh peserta didik SMA Negeri 1 Bojonegoro ini ternyata mampu menjuarai lomba lomba literasi dari tingkat kabupaten hingga tingkat nasional. Ambil contoh peserta didik SMA Negeri 1 Bojonegoro ini atas nama Ditta Hakha dengan karya novelnya D’eiffel : Brums Dans Le Ciel De Paris (Kabut di Langit Paris) ini  karya nya mampu terbit menjadi sebuah buku laris dibawah penerbit Mizan Pubishing dengan kode buku RF-244, ISBN : 9786024201586, Tahun terbit : 2016 dan sebanyak 148 halaman buku.

Kegiatan literasi penulisan karya ilmiah. Kegiatan literasi penulisan karya ilmiah ini diberikan wadah dalam kegiatan ekstrakurikuler karya ilmiah remaja (KIR). Salah satu program Kelompok Ilmiah Remaja  (KIR) SMA Negeri 1 Bojonegoro adalah OBSERVASI KIR. Tujuan dari program ini adalah menggali dan memanfaatkan beragam informasi dari Unit Kegiatan Mahasiswa  (UKM) yang berziarah di bidang  Penulisan  dan Penelitian Ilmiah. Untuk tahun 2017 ini OBSERVASI KIR SMASABO jatuh pilihan di UKM Penelitian Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).


Kegiatan ekstra yang dilaksanakan setiap hari jum’at sore ini sudah berjalan dan berkiprah dalam beragam event/lomba LKIR/LKTI  kurang lebih tiga belas tahun. Tentunya sudah sekian kali pula meraih prestasi baik di tingkat kabupaten, provinsi maupun nasional. Bahkan ada salah satu karya tulis ilmiah terbaik dari siswa KIR SMAN 1 Bojonegoro versi LIPI di Jakarta yang diabadikan di ruang pameran publik di Taman Mini Indonesia Indah  (TMII) di Jakarta, yang berjudul Pemanfaatan Limbah Air Kelapa untuk Pengawetan Hasil Produksi Tempe karya Akbar Fahmi (Alumni SMASABO 2009)" 

Kegiatan literasi menulis melalui media blog. Budaya menulis peserta didik lewat blog ini hasilnya dapat dilihat di media online website http://prakarya.xyz.. Semangat untuk berkarya dan mengembangkan ketrampilan menulis ini menjadi moto mata pelajaran pendidikan prakarya kewirausahaan. Budaya literasi menulis ini disambut baik oleh seluruh peserta didik khususnya kelas 12. Selain dapat menghasilkan karya kerajinan, mereka juga dapat memamerkan karyanya sendiri melalui media online blog yang sudah mereka buat. Rasa kepuasan dan kebanggan tersendiri bagi mereka dapat membuat karya yang bermanfaat dan dapat dipamerkan melalui media blog online

Komunitas Guru Belajar 'Konsultasi Pendidikan'


Pertanyaan :

Lie Leoni :

Selamat malam bu mia, saya Lie dr depok. Saya ingin bertanya, bagaimana cara membangun komunikasi positif kepada orang tua yang sulit sekali sevisi dg guru dan sekolah. Dalam hal ini ketika guru dan sekolah menanamkan karakter mandiri dan bertanggung jawab kepada ananda, tetapi di rumah orang tua terbiasa memanjakan dan memenuhi semua kebutuhannya termasuk perlengkapan sekolah, mengerjakan pr, dll. Terima kasih

Lies Sidoarjo :

Terima kasih sebelumnya
Yang ingin sy tanyakan, bagaimana cara agar siswa memiliki perilaku saling peduli satu sama lain dan jg memiliki sikap inisiatif?

Asia Astuti :

Saya ingin bertanya, kita telah membuat kesepakatan bersama dikelas tapi ada yg menanggapi positif dan negatif dengan tdak mematuhinya, kita telah mengingatkan berulang-ulang, tapi tetap saja, bagaimana cara kita menciptakan disiplin postif terhadap anak yg bersifat negatif, dan bagaimana cara kita menciptakan hubungan yg postif kepada orng tua yg tidak merspon setiap informasi yg kita berikan, terimakasih

Jawab :

Elisabet Susan :
Saya akan coba jawab pertanyaan pertama dulu ya. Dari Ibu Lie Leoni.


Pendidikan tidak lepas dari peran komunitas. Komunitas itu siapa? Guru, orangtua, teman-teman, dan lingkungan. Komunikasi yang baik antara guru, pihak sekolah dan orangtua dimulai sejak awal. Melakukan orientasi orangtua murid di awal tahun ajaran dapat menjadi salah satu sarana untuk menyamakan visi pendidikan. Pihak sekolah dapat menjelasankan dengan detail mengenai program/aktivitas/kebijakan sekolah. Orangtua juga diberi kesempatan untuk memahami dan bertanya.
Kesepakatan bersama juga dapat didiskusikan pada kesempatan tersebut. Misalnya mengenai bagaimana cara berkomunikasi antara guru-orangtua dapat dilakukan. Misalnya mau melalui email/ applikasi lain di gawai. Bila ingin bertemu dan ada yang ingin disampaikan bisa membuat "teacher-parents conference" setelah jam sekolah misalnya. Saya rasa pada dasarnya keterbukaan menjadi dasar hubungan antara orangtua dan guru. Di sekolah kami misalnya kami sepakat untuk menerapkan kebijakan "open door" dimana orangtua boleh terbuka berpendapat, menyampaikan pesan, bertanya, berbagi pengalaman, dll.

Elisabet Susan:
Pertanyaan kedua dari Cak Lies di Sidoarjo.

Hhmmm... membangun rasa saling peduli memang nggak mudah. Butuh kepekaan dan pembiasaan ya. Tapi yang pertama kali bisa dilakukan seorang guru adalah menjadi figur yang peduli pada murid-muridnya sih. Sesederhana menyebut nama-nama mereka dengan benar, mengucapkan selamat pagi, menanyakan kabar. Contoh nyata di kelas, kami selalu melakukan "circle time" 15 menit setiap pagi sebelum kelas dimulai. Di situ kita bisa berdiskusi mengenai banyak hal. Melihat siapa yang tidak masuk, kemudian mendoakan yang sakit, membahas mengenai bagaimana perasaan murid di awal hari, atau membahas pengalaman2 siswa, dll. Sejauh ini sih saya rasa kegiatan ini cukup efektif membangun kepedulian.

Sementara inisiatif bisa dibiasakan dengan memberikan pilihan pada murid. Atau menawarkan untuk menjadi relawan. Menanyakan solusi untuk memecahkan masalah dari perspektif anak-anak dan mendiskusikannya.

Mia Savitri : 
Saya akan mencoba menjawab untuk pertanyaan ibu Asia Astuti.
Bagaimana menciptakan disiplin positif kepada anak yang cenderung negatif adalah dengan mengajaknya berbicara secara personal, kembali ke characterized itu tadi. Untuk mengetahui apa alasan sebenarnya dibalik perilaku kontranya terhadap kesepakatan bersama yang sudah ada. Dengan demikian, mungkin saja dapat dilakukan kesepakatan bersama tersendiri dengan anak tersebut supaya tetap terbangun lingkungan positif yang diharapkan. Dengan demikian, si anak juga dapat merasa terfasilitasi keinginan serta hambatannya dapat teratasi.

Mengenai orangtua. Kadang memang sulit saat komunikasi tidak berjalan secara efektif. Mgkn juga kita harus mencoba berbagai cara untuk dapat menarik 'perhatian' orangtua agar mendapatkan respon yg diharapkan. Kita sebagai guru juga harus menunjukkan konsistensi kepada orang tua tersebut

Komunitas Guru Belajar "Disiplin Positif Praktik Pendidikan"








Mia Safitri (Komunitas Guru Pembelajar)

Disiplin positif dewasa ini menjadi sebuah praktik pendidikan yang dirasakan memberi efek positif bagi anak-anak.  Dengan menerapkannya diharapkan anak-anak mampu :

☺ mengembangkan perilaku positif yang bertahan untuk jangka panjang
☺ mengembangakan kemampuan untuk mengelola diri dan tahan terhadap godaan/kesulitan
☺ mengembangkan motivasi internal dengan pembiasaan  sejak dini.

Ketiga hal tersebut dapat dibentuk dengan membangun sebuah komunikasi yang positif antara guru-murid atau orangtua-anak. Komunikasi yang positif ditandai dengan saling memanusiakan hubungan sebagai salah satu fondasinya.

Istilah memanusiakan hubungan sendiri diadaptasi dari kata "characterized" yang definisinya adalah   "describes characters or quality of ..." (Merriam Webster) atau "describe the nature or features of ..."

Dalam konteks sebuah interaksi dan komunikasi, memanusiakan hubungan berarti menyadari bahwa setiap pribadi memiliki keunikan. Dalam setiap keunikannya, setiap pribadi memiliki harapan dan layak mendapatkan kepercayaan.

Dengan sebuah interaksi yang memanusiakan hubungan, anak-anak akan mampu menumbuhkan rasa :

🙋🏻 aku baik
🙋🏻 aku mampu melakukan hal baik
🙋🏻 aku bisa dipercaya
🙋🏻 aku mampu menguasai diri
🙋🏻 aku mampu menyelesaikan masalah
🙋🏻 aku memiliki solusi
🙋🏻 aku dapat berkontribusi

Guru/orangtua mempunyai peran penting dalam proses memanusiakan hubungan, antara lain dengan :

👉🏼 mengenali karakter, keunikan dan kebutuhan setiap anak
👉🏼 menghargai ide/gagasan/ inisiatif/kebutuhan mereka
👉🏼 memfasilitasinya dengan menemukan sebuah kesepakatan bersama

Contoh nyatanya antara lain: membuat kesepakatan di kelas, membuat kesepakatan di area bermain serta kesepakatan menggunakan gawai.

Komunikasi positif adalah wujud dari upaya memanusiakan hubungan. Hal ini menjadi pondasi dalam menerapkan disiplin positif.

 
Copyright © 2014 PRAKARYA. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger