Home » » Festival Pawai Budaya Hari Jadi Bojonegoro ke-340 Karya SMA Negeri 1 Bojonegoro

Festival Pawai Budaya Hari Jadi Bojonegoro ke-340 Karya SMA Negeri 1 Bojonegoro

Posted by PRAKARYA on 10/09/2017


Festival Pawai Budaya "Keris Jangkung Luk Telu Blong Pok Gonjo" Kisah Kayangan Api asal Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro
  1. Juara 3 Peserta Terbaik
  2. Juara 3 Penulis Naskah Terbaik a'n Edy Masrur, S.Pd
  3. Juara 3 Kreator Terbaik a'n Sukiswati, S.Sn
Minggu, [8/10/2017] Pagi pukul 09.00 WIB festival pawai budaya yang bertema "Menjunjung Tinggi Nilai Nilai Budaya, Sejarah, Adat dan Tradisi Kearifan Lokal Dalam Membangun Karakter Bangsa Menuju Terwujudnya Bojonegoro Yang Bersatu Melangkah Maju  " ini yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro secara resmi festival pawai budaya dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro.

Di tahun 2017 dalam rangka merayakan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-340, SMA Negeri 1 Bojonegoro turut berpartisipasi dalam perayaan festival pawai budaya dengan mengangkat tema "Keris Jangkung Luk Telu Blong Pok Gonjo" Kisah Kayangan Api asal Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro.

Perayaan festival pawai budaya ini mengandung maksud "Menjaga dan melestarikan budaya lokal sebagai wujud bentuk peduli untuk nguri uri budaya bangsa sendiri". Kepedulian untuk menjaga dan melestarikan budaya merupakan wujud implementasi nilai-nilai luhur Pancasila yang terkandung didalamnya nilai persatuan : cinta tanah air dan bangsa, bangga sebagai bangsa Indonesia, dan saling menghormati adanya perbedaan suku, ras etnis dan agama sehingga dapat terwujudnya persatuan.

Berikut sinopsis "Keris Jangkung Luk Telu Blong Pok Gonjo" Kisah Kayangan Api asal Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro yang diangkat oleh SMAN 1 Bojonegoro dalam Festival Pawai Budaya Tahun 2017  :
Pada abad ke-13, saat raja kedua Majapahit yang bernama Prabu Jayanegara berkuasa, terjadi pemberontakan Rakuti dan Rasemi, angkatan perang Majapahit. Pemicunya, Prabu Jayanegara dianggap tidak sesuai harapan sebagai raja yang arif, bijak, dan mengayomi rakyatnya. Prabu Jayanegara dianggap adigung adiguno, suka mabuk dan main perempuan. Apalagi, Mahapatih Ramapatih (sang penasihat) Prabu Jayanegara justru menjerumuskan sang raja yang masih muda itu lantaran Ramapatih kecewa bukan dirinya yang diangkat sebagai raja. 

Terjadilah sebuah perang saudara antara prajurit Prabu Jayanegara melawan prajurit pengikut Rakuti dan Rasemi. Pasukan Prabu Jayanegaraterdesak lalu dilarikan oleh Bekel Mada (lurah prajurit Bayangkara) ke Bedander (Dander, Bojonegoro). Mereka menuju padepokan yang dipimpin oleh Ki Rembi. Di sinilah, Prabu Jayanegara bersama para pengikutnya menyelamatkan diri. Sebagai seorang pendeta Hindu, Ki Rembi menjadi penasihat yang menentramkan Prabu Jayanegara dan pasukannya.

Sementara itu, di tempat berbeda, ada dua pria kakak beradik yang bernama Empu Supogati (kakak) dan Empu Supo (adik). Konon, ketika keris Sumelang Gandringhilang, yang ditugaskan mencari keris ini adalah dua orang bersaudara ini. Mereka berhasil menemukan keris di Caluring, Banyuwangi. Namun, Empu Supo berniat memiliki keris pusaka itu. Empu Supogati marah dan menegur adiknya.

“Adikku, jangan kau ambil keris itu. Kita ini keturunan empu. Kau pasti bisa membuat keris yang lebih ampuh daripada keris Sumelang Gandring. Bahkan, Sumelang Gandring sudah tidak bertuah. Belum apa-apa saja, keris itu telah makan korban, yaitu Empu Gandring. Sepanjang sejarah, keris ini telah mengabiskan tujuh nyawa para pembesar,” ujar Empu Supogati.

Empu Supogati menyuruh Empu Supo untuk menemui Ki Rembi di Bedander. Oleh Ki Rembi, Empu Supo diberi tahu tempat yang tepat untuk membuat keris, yaitu Kayangan Api. Pada masa itu, Kayangan Api menjadi tempat penyembahan sang Dewa Api yang dianggap sebagai penguasa alam. Di sinilah, Empu Supo membuat keris dari sari-sari besi. Saat keris itu dibuat, terdengar suara gaib. Suara itu rupanya suara Raden Wijaya (ayah Prabu Jayanegara). 

“Hei, Supo. Kebetulan kamu sedang membuat keris. Sekarang Majapahit sedang diliputi kabut gelap. Semoga keris yang kau buat bermanfaat bagi Majapahit. Maka, serahkanlah keris itu kepada rajamu sebagai bentuk penebus dosamu ketika engkau punya niat memiliki keris Sumelang Gandring yang bukan milikmu. Keris yang kau buat ini aku beri nama keris Jangkung Luk Telu Blong Pok Gonjo,” titah Prabu Jayanegara.

Dengan keris buatan Empu Supo itu, sisa laskar pengikut setia Prabu Jayanegara yang dipimpin oleh bekel Mada menyerang pasukan pemberontak. Mereka dibantu oleh para pemuda Bedander dan cantrik Ki Rembi. Mereka menyerang Majapahit yang telah dikuasai oleh Rakuti dan Rasemi. Usaha itu tidak sia-sia. Tumpaslah pasukan pemberontak. Rakuti dan Rasemi meninggal terhunus keris Jangkung Luk Telu Blong Pok Gonjo yang dipegang oleh Bekel Mada.

Setelah kembali berkuasa, Prabu Jayanegara memberikan dua gelar untuk dua orang yang telah berjasa. Pertama, Empu Supo diangkat sebagai empu kerajaan dengan gelar Empu Kriya Kusuma karena jasanya membuat keris Jangkung Luk Telu Blong Pok Gonjo. Kedua, Bekel Mada diangkat menjadi patih dengan nama Patih Gajah Mada setelah patih Majapahit Kalatadah gugur dalam pertempuran

Berikut Dokumentasi Pawai Budaya Persembahan Karya Anak Bangsa SMA Negeri 1 Bojonegoro :




SHARE :
CB Blogger
 
Copyright © 2014 PRAKARYA. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger