Home » » Komunitas Guru Belajar 'Konsultasi Pendidikan'

Komunitas Guru Belajar 'Konsultasi Pendidikan'

Posted by PRAKARYA on 11/11/2017


Pertanyaan :

Lie Leoni :

Selamat malam bu mia, saya Lie dr depok. Saya ingin bertanya, bagaimana cara membangun komunikasi positif kepada orang tua yang sulit sekali sevisi dg guru dan sekolah. Dalam hal ini ketika guru dan sekolah menanamkan karakter mandiri dan bertanggung jawab kepada ananda, tetapi di rumah orang tua terbiasa memanjakan dan memenuhi semua kebutuhannya termasuk perlengkapan sekolah, mengerjakan pr, dll. Terima kasih

Lies Sidoarjo :

Terima kasih sebelumnya
Yang ingin sy tanyakan, bagaimana cara agar siswa memiliki perilaku saling peduli satu sama lain dan jg memiliki sikap inisiatif?

Asia Astuti :

Saya ingin bertanya, kita telah membuat kesepakatan bersama dikelas tapi ada yg menanggapi positif dan negatif dengan tdak mematuhinya, kita telah mengingatkan berulang-ulang, tapi tetap saja, bagaimana cara kita menciptakan disiplin postif terhadap anak yg bersifat negatif, dan bagaimana cara kita menciptakan hubungan yg postif kepada orng tua yg tidak merspon setiap informasi yg kita berikan, terimakasih

Jawab :

Elisabet Susan :
Saya akan coba jawab pertanyaan pertama dulu ya. Dari Ibu Lie Leoni.


Pendidikan tidak lepas dari peran komunitas. Komunitas itu siapa? Guru, orangtua, teman-teman, dan lingkungan. Komunikasi yang baik antara guru, pihak sekolah dan orangtua dimulai sejak awal. Melakukan orientasi orangtua murid di awal tahun ajaran dapat menjadi salah satu sarana untuk menyamakan visi pendidikan. Pihak sekolah dapat menjelasankan dengan detail mengenai program/aktivitas/kebijakan sekolah. Orangtua juga diberi kesempatan untuk memahami dan bertanya.
Kesepakatan bersama juga dapat didiskusikan pada kesempatan tersebut. Misalnya mengenai bagaimana cara berkomunikasi antara guru-orangtua dapat dilakukan. Misalnya mau melalui email/ applikasi lain di gawai. Bila ingin bertemu dan ada yang ingin disampaikan bisa membuat "teacher-parents conference" setelah jam sekolah misalnya. Saya rasa pada dasarnya keterbukaan menjadi dasar hubungan antara orangtua dan guru. Di sekolah kami misalnya kami sepakat untuk menerapkan kebijakan "open door" dimana orangtua boleh terbuka berpendapat, menyampaikan pesan, bertanya, berbagi pengalaman, dll.

Elisabet Susan:
Pertanyaan kedua dari Cak Lies di Sidoarjo.

Hhmmm... membangun rasa saling peduli memang nggak mudah. Butuh kepekaan dan pembiasaan ya. Tapi yang pertama kali bisa dilakukan seorang guru adalah menjadi figur yang peduli pada murid-muridnya sih. Sesederhana menyebut nama-nama mereka dengan benar, mengucapkan selamat pagi, menanyakan kabar. Contoh nyata di kelas, kami selalu melakukan "circle time" 15 menit setiap pagi sebelum kelas dimulai. Di situ kita bisa berdiskusi mengenai banyak hal. Melihat siapa yang tidak masuk, kemudian mendoakan yang sakit, membahas mengenai bagaimana perasaan murid di awal hari, atau membahas pengalaman2 siswa, dll. Sejauh ini sih saya rasa kegiatan ini cukup efektif membangun kepedulian.

Sementara inisiatif bisa dibiasakan dengan memberikan pilihan pada murid. Atau menawarkan untuk menjadi relawan. Menanyakan solusi untuk memecahkan masalah dari perspektif anak-anak dan mendiskusikannya.

Mia Savitri : 
Saya akan mencoba menjawab untuk pertanyaan ibu Asia Astuti.
Bagaimana menciptakan disiplin positif kepada anak yang cenderung negatif adalah dengan mengajaknya berbicara secara personal, kembali ke characterized itu tadi. Untuk mengetahui apa alasan sebenarnya dibalik perilaku kontranya terhadap kesepakatan bersama yang sudah ada. Dengan demikian, mungkin saja dapat dilakukan kesepakatan bersama tersendiri dengan anak tersebut supaya tetap terbangun lingkungan positif yang diharapkan. Dengan demikian, si anak juga dapat merasa terfasilitasi keinginan serta hambatannya dapat teratasi.

Mengenai orangtua. Kadang memang sulit saat komunikasi tidak berjalan secara efektif. Mgkn juga kita harus mencoba berbagai cara untuk dapat menarik 'perhatian' orangtua agar mendapatkan respon yg diharapkan. Kita sebagai guru juga harus menunjukkan konsistensi kepada orang tua tersebut

SHARE :
CB Blogger
 
Copyright © 2014 PRAKARYA. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger