Home » » Mengasah Diri Melalui Wiraga, Wirama dan Wirasa

Mengasah Diri Melalui Wiraga, Wirama dan Wirasa

Posted by PRAKARYA on 2/10/2018


Ressa
[Komunitas Guru Belajar - Serpong]

Pengalaman menarik yang pernah saya alami saat pertama kali mengajar di sekolah adalah ketika menangani Klub Tari Tradisional untuk anak usia 4- 5 tahun.
Situasi anak-anak yang saya hadapi adalah adanya keragaman dalam keaktifan. Ada yang cerewet dan ada yang tidak mau berbicara sama sekali, dengan kata lain ada gap antara anak yang aktif dan pasif. Di samping itu, di usia mereka yang masih dini, banyak di antaranya yang belum terbiasa bekerjasama serta berani tampil percaya diri di depan umum. Oleh karenanya, hal-hal inilah yang ingin saya bantu kembangkan melalui bidang yang saya ajarkan.
Saya mencoba mengoptimalkan unsur-unsur tarian (Wiraga, Wirama, dan Wirasa) sebagai media belajar anak-anak untuk mengembangkan kemampuan dirinya. Sederhananya Wiraga adalah penguasaan gerak, Wirama adalah penguasaan irama/ketukan, dan Wirasa adalah penguasaan rasa (penghayatan).    

Kemudian, saya memikirkan jenis tarian yang di samping dapat mengoptimalkan potensi mereka, juga dapat mengelola keaktifan mereka. Setelah melakukan riset dan berdiskusi dengan rekan guru, akhirnya saya memilih untuk mengajarkan tari Cublak Cublak Suweng yang berasal dari Jawa Timur. Kemudian, sebelum berpraktik saya ajak anak-anak untuk membahas pemahaman tentang menari terlebih dahulu. Apa itu menari dan bagaimana contoh tarian yang akan dipelajari.

Di awal, untuk mengasah kemandirian, saya mencontohkan anak-anak cara memakai selendang dan meminta mereka mencontohnya secara mandiri. Ini saya lakukan berkali kali sampai mereka bisa. Selanjutnya ketika ada anak yang masih belum bisa, teman yang lain membantu. Melalui hal ini proses kemandirian dan kerjasama pun dimulai.
Kegiatan berlanjut ke sesi pemanasan yang berfungsi untuk merenggangkan otot sampai anak tidak merasa kaku untuk bergerak. Kemudian kami memulai untuk bergerak, di mulai dari gerak tangan, kemudian kaki dan menyusul gerak lainnya untuk dapat dirangkai menjadi satu. Pada setiap pertemuan, anak anak melakukan irama 2x8 hitungan yang terus diulang. Melalui irama ini, anak-anak belajar tentang ritme saat melakukan gerakan dan melatih mereka menemukan pola.

Di 10 menit terakhir saya selalu memberikan kebebasan kepada anak-anak untuk berekspresi melalui lagu kesukaan mereka. Pertanyaan ini saya lontarkan, “Mau lagu apa untuk ending kelasnya?”. Setelah selesai, saya selalu bertanya, “Apa kalian senang?” yang seringkali mereka jawab dengan “Yaa..” Hal ini saya lakukan untuk melihat sejauh mana mereka menikmati proses belajarnya.

Mengasah kekompakan juga menjadi hal yang penting saat menangani mereka. Saya selalu menyampaikan untuk menyatukan Wiraga, Wirama, dan Wirasa, dalam diri mereka dan dalam kelompok. Ketika ada anak yang belum bisa saya selalu memberikan pertanyaan seperti “Teman-teman, A belum bisa gerakan di bagian akhir lagu, bagaimana ya?” Kemudian saya arahkan anak-anak untuk bisa saling membantu. Rutinitas ini terus dilakukan hingga tanpa diminta mereka dapat saling membantu satu sama lain.

Di ruang tari, terdapat cermin besar di dinding agar setiap anak dapat melihat gerakannya sendiri dan membantu proses latihannya. Hal ini juga melatih anak untuk lebih percaya diri karena melihat dirinya secara terus menerus di depan kaca.
   
Kegiatan berlangsung hingga tiba di akhir pertemuan di mana anak-anak harus menampilkan kemampuannya di depan umum (orangtua dan teman-teman kelas yang lain) melalui kegiatan assembly sekolah. Akhirnya, setelah konsisten melatih diri melalui gerak, irama, dan ekspresi, dengan segala kekurangan dan kelebihannya anak-anak mampu menampilkan diri dengan baik dalam kegiatan assembly tersebut.

Pada akhirnya, terdapat perbedaan antara kondisi anak-anak pada saat sebelum dan sesudah berkegiatan menari. Selain memunculkan keaktifan yang merata, anak-anak juga dapat lebih kompak dan cukup percaya diri menampilkan sesuatu di depan umum. Hal ini juga terkonfirmasi dari hasil obrolan dengan orangtua yang ikut mendampingi proses belajar mereka di rumah. Semakin senang perasaan saya ketika kemudian ada anak yang bertanya dengan yakin, “Bu, kapan kita pentas lagi?”

SHARE :
CB Blogger
 
Copyright © 2017 PRAKARYA. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger