Home » » Memberikan Penilaian Pada Orang Lain

Memberikan Penilaian Pada Orang Lain

Posted by PRAKARYA on 2/06/2018


Kang Asep [Logika Filsafat]

Saya sering berkata, "Di sini, semua orang bebas menilai".  Tidak saya pungkiri, memberikan penilaian pada orang lain terkadang memang diperlukan. Seperti seorang guru yang membimbing murid-muridnya, dia harus mengerti masalah-masalah pada muridnya, lalu menilai. Guru memberikan soal ulangan, lalu memberi tanda mana yang salah dan mana yang benar, setelah itu memberikan nilai. Dokter juga melakukan hal yang sama, melakuan diagnosa, memahami masalah-masalah pada pasien, lalu memberikan penilaian, untuk kemudian mencari solusi bagi pasien itu.

Hal yang sama terjadi dalam dunia diskusi, satu sama lain seringkali saling menilai, tetapi dalam nuansa yang berbeda. Karena kebanyakan penilaian-penilaian itu dirasakan sebagai "hal tak menyenangkan".  Penilaian-penilaian itu pada umumnya berdampak buruk. Memberikan nilai baik pada orang lain, dapat mendorong orang lain menjadi tinggi hati. Memberikan nilai buruk pada orang lain juga dapat membuatnya merasa terhina. Menjadi tinggi hati atau terhina, keduanya merupakan faktor yang melemahkan akal, sehingga memembuat hilang keseimbangan akal dalam diskusi.

Tanpa mengingkari pentingnya "menilai", saya memilih untuk berusaha tidak terlalu banyak menilai "lawan bicara" pada saat diskusi dengan cara mengurangi penggunakaan kata "anda" atau "kamu" sesedikit mungkin.  Sekali lagi, bukan tidak boleh menilai orang lain, tapi usahakan tidak terlalu banyak dan tidak menjadi kebiasaan. Apalagi kita sudah melihat gejala-gejala, orang lain tidak suka dengan penilaian kita, maka segera hentikan. Singkatnya, "jangan menilai orang lain apabila tidak ada perlunya." sebelum menilai orang lain, kita perlu pikirkan dulu, "apa pentingnya kita menilai orang lain". Dalam diskusi yang sehat, kita harus lebih fokus bahas arugmen, dan jangan bahas pribadi seseorang. "ini bukan tentang aku atau kamu, melainkan tentang ini".

Jangan menilai orang lain sehingga membuatnya harus sibuk membela diri.  Jangan sibuk membela diri sehingga orang lain akan terus menerus membuktikan kebenaran penilaiannya. Jika tidak suka dengan penilaian orang lain, maka abaikanlah saja untuk menunjukan bahwa penilaiannya itu tidak dibutuhkan. Memanglah tidak mudah untuk mengabaikan penilaian orang lain, karena apabila kita merasa orang lain memberikan penilaian tak benar tentang diri kita, itu akan mendorong diri kita untuk membuktikan padanya bahwa kita tidak seperti yang dia katakan. Namun, usaha bela diri kita hanya akan membuat orang lain memberikan penilaian yang lebih banyak lagi. Dan kita, kembali harus melakukan bela diri lebih banyak lagi. Tak berujung.

Apabila kita memang benar-benar perlu memberikan penilaian, maka haruslah penilaian itu dilakukan dengan penuh kerendahan hati dengan berpikir bahwa penilaian tersebut hanya bernilai benar, apabila diakui kebnaranya oleh pihak yang dinilai. Saya misalnya, mengklaim bisa membaca pikiran orang. Tetapi, saya tidak akan gegabah mengatakan "kamu barusan berpikir begitu atau begini." akan tetapi saya akan berkata, "barusan, kamu telah berpikir begini dan begitu, ini yang kamu inginkan, dan hal yang tak kamu harapkan adalah begini. Tetapi, apa yang saya katakan ini belum tentulah benar. Kamu sendirilah yang lebih tahu kebenarannya. Jadi, katakanlah kepada saya, benarkah apa yang saya katakan ? Jangan kamu ragu menyangkalnya, apabila memang apa yang saya katakn tak benar."

Dalam menilai orang lain, pikirkan pula efek yang akan dirasakan orang lain. Apakah penilaian ini akan terasa menyenangkan bagi orang lain ataukah menyakitkan. Diterima ataukah ditolak. Diakui ataukah disangkal. Tak selamanya penilaian buruk itu akan akan ditolak. Seperti dokter yang mendiagnosa bahwa ada batu empedu dalam tubuh ibu saya. Tentu hal itu kabar yang tak menyenangkan. Tetapi, hal itu tidak membuat ibu saya jadi tak suka pada dokter. Malah berterima kasih, karena dokter dapat mendiagnosa penyakit ibu saya dengan benar.  Tetapi, saya kesal pada seorang bidan, karena ketika memeriksa anak saya yang masih bayi, dia menuduh bahwa kami telah membawa anak kami ke dukun beranak, "Ini bekas pijatan dukun beranak. Makanya anak bayi itu jangan dibawa ke dukun beranak,bahwa ke dokter atau ke bidan biar ditangani dengan benar." Bagaimana dia bisa begitu cepat menilai dan menyimpulkan seperti itu tanpa bertanya dulu kepada kami ? Padahal kami sama sekali tidak pernah membawa bayi kami ke dukun beranak. Penilaian yang tidak benar menurut pihak yang dinilai, hanya akan menjatuhkan citra Anda, bahwa Anda bukanlah orang yang kredibel untuk melakukan penilaian. Karena itu, jangan sekali-kali menilai orang lain, apabila penilaian itu sama sekali tidak diminta atau dibutuhkan oleh orang lain

SHARE :
CB Blogger
 
Copyright © 2017 PRAKARYA. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger